Cara Membeli Tanah Tanpa Perantara

jual tanah di jakartaProses saat membeli tanah memang agak rumit ketimbang beli rumah baru. Karena umumnya, saat membeli rumah segala hal diurus oleh developer, pembeli hanya menunggu jadi. Sementara membeli tanah, ada tahapan yang perlu dilalui. Untuk mengetahui hal seperti ini anda mungkin bisa meluangkan waktu untuk membaca beberapa artikel tentang jual rumah Jakarta, rumah dijual di Jakarta Selatan, harga rumah di Jakarta, jual rumah Jakarta Selatan, jual rumah Jakarta Timur, rumah dijual di Jakarta Timur, jual rumah di Jakarta Selatan, rumah dijual di Jakarta Barat, jual tanah murah, apartemen Jakarta, harga apartemen di Jakarta, apartemen Jakarta Selatan, sewa apartemen di Jakarta, apartemen di Jakarta Selatan, sewa apartemen Jakarta Selatan, apartemen di Jakarta Pusat, apartemen murah di Jakarta Pusat, apartemen di Jakarta Barat, jual apartement di Jakarta, jual tanah di Jakarta, harga tanah di Jakarta.

Sebagai opsi dari kondisi tersebut, beberapa pihak kemudian memilih untuk membelinya melalui orang ketiga atau broker. Namun ada komisi yang harus dibayarkan, bahkan tak sedikit broker yang melakukan markup harga. Untuk menghindari ini, tentu saja mengurusnya sendiri adalah yang terbaik. sebenarnya jika Anda memahami tahapan-tahapannya, ini bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan. Nah, jika Anda ingin membeli tanah secara langsung kepada individu si penjual, perhatikan tahap–tahap berikut ini agar tidak kena tipu:

  • Buat AJB

AJB (Akta Jual Beli) perlu dibuat guna mengukuhkan bahwa ke depannya, tanah tersebut telah dipindahtangankan. Beberapa persyaratan yang wajib dibawa oleh penjual dan pembeli antara lain:

Pihak Penjual:|

Sertifikat tanah asli
KTP penjual suami/istri
Jika penjual suami/istri meninggal, maka perlu membawa serta akta kematian
Bukti PBB (Pajak Bumi dan Bangunan) 10 tahun terakhir
Surat persetujuan suami/istri
KK (Kartu Keluarga)

Pihak Pembeli:
KTP
KK (Kartu Keluarga)
Keduanya lalu mengunjungi kantor PPAT (Pejabat Pembuat Akta Tanah) untuk pengajuan AJB.

Selain kantor PPAT, pihak pembeli dan penjual juga bisa melakukan di kantor notaris ataupun kantor kecamatan yang umumnya ditunjuk sebagai kantor PPAT sementara. Beberapa proses yang bakal dilakukan antara lain;

  • Pemeriksaan terhadap keaslian surat tanah yang dibawa. Tujuannya untuk mengetahui bahwa tanah tersebut sedang tidak dalam sengketa ataupun digadaikan.
  • Penjual juga perlu menyertakan surat keterangan bahwa tanah tersebut tidak sedang dalam sengketa. Sementara pihak pembeli, membuat surat pernyataan tentang ketidakberhakannya atas tanah yang melebihi batas luas maksimal.
  • Penjual membayar Pajak Penghasilan (PPh) dengan rumusan, PPh = NJOP/harga jual x 5%. Sementara pihak pembeli, membayar Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) dengan perhitungan, BPHTB = NJOP/(harga beli – nilai tidak kena pajak) x 5%.

Dalam proses pembuatannya dihadiri oleh pihak penjual dan pembeli. Jika salah satunya tidak dapat hadir, maka bisa dikuasakan dengan dengan surat kuasa tertulis. Dihadiri oleh minimal 2 orang saksi. Umumnya adalah karyawan di kantor notaris ataupun PPAT yang ditunjuk. Kemudian penjual dan pembeli menandatangani surat persetujuan AJB dengan isi yang dibacakan terlebih dahulu oleh pejabat yang ditunjuk.

  • Setelah itu, tentu saja AJB yang asli kemudian diserahkan ke kantor BPN terdekat paling lama 7 hari setelah akta tersebut ditandatangani. Penyerahan AJB juga turut menyertakan surat permohonan balik nama dengan tanda tangan pembeli, sertifikat hak atas tanah, KTP penjual dan pembeli, bukti lunas Pph, serta bukti lunas BPHTB.
  • Setelah sampai di BPN, Anda akan mendapat tanda bukti surat balik nama yang menjadi kewajiban si pembeli untuk menyimpannya.